Saturday, October 09, 2021

New Personal Site

Hi, I have a new blog. Please visit https://rabindra.id. Yay! Finally my personal website with personal domain name. lol.

For now, I put my travelog there, basically a copy of the writing from my Instagram account. But it's very possible that I write broader topics there.


See you!

Friday, August 27, 2021

Pakde Soendjojo

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Soendjojo Dirdjosoemarto, yang biasa dipanggil dengan Pakde Soen, telah berpulang ke rahmatullah 7 Agustus 2021 lalu. Pakde Soen merupakan kakak ipar yang tertua dari ibu saya. Usianya sudah sekitar 85 tahun.

Beliau tinggal di Bandung. Oleh karena itu, setiap lebaran sebelum pandemi, biasanya kami pergi ke Bandung untuk mengunjungi beliau. Ya, soalnya memang yang paling tua kan ya.

Pakde Soen merupakan sosok pengajar pendidikan sejati, dan selalu antusias dengan kegiatan mengajarnya. Beliau tadinya mengajar di IKIP, yang kemudian berubah menjadi UPI, lalu kemudian di Universitas Kuningan. Keahliannya adalah terkait dengan biologi dan pengetahuan alam.

Waktu saya coba googling, ternyata banyak juga ya buku yang telah ditulisnya. Ngga nyangka! Haha. Selama ini saya belum pernah mencoba googling nama beliau.

Yang membuat saya selalu teringat dengan beliau adalah suaranya yang berat dan sangat jawa sekali.

Beliau sudah tinggal di Bandung sejak akhir tahun 60-an

Salah satu hal yang sering diceritakan beliau adalah bagaimana beliau mengusulkan adanya nama jalan Pecah Kopi, yang apabila diterjemahkan ke Bahasa Inggris adalah Coffee Break.

Beliau orang yang sangat taat waktu. Kalau bermalam di rumahnya, biasanya jadwal makan pagi, siang, dan malam sangat on time. Misal jam 8 pagi, 12:30 siang, dan 19 malam. Dan kami semua lalu makan di meja makan bersama-sama.

Sudah dua lebaran ini kami tidak berlebaran di rumah beliau, karena terjadinya pandemi. Sungguh sangat kangen suasana kebersamaan bersama beliau.

Kalau ke Bandung, tidak bisa tidak saya menyambangi rumah beliau, walaupun sebentar. Ya, hal ini memang lebih karena didikan ortu sih. Intinya, kalau kami berkunjung ke rumah beliau, pasti beliau akan sangat senang.

Terakhir saya bertemu beliau dua tahun lalu waktu ke Bandung, sebelum pandemi terjadi. Beliau sangat senang bercerita, tak terkecuali pada saat kunjungan saya hari itu.

Saya ingat suasana saat itu. Malam hari, di meja makan hanya ada kami berdua, duduk berhadap-hadapan. Beliau bercerita dengan semangat sambil menikmati makanan yang disajikan. Salah satu condiment favorit beliau adalah sambal tomat yang sangat khas. Begitu selesai makan main course, dessert berupa buah tak pernah luput disajikan dan disantap.

Sudah beberapa tahun terakhir, beliau hobi bercerita tentang pengalamannya waktu ke Aceh dimana dia menjadi pengajar di sana. Saat itu, kalau ga salah memang ada program pendistribusian pengajar ke daerah-daerah yang dinilai lebih tertinggal.

Beliau bercerita bagaimana beliau berkreasi merakit kursi dari sisa-sisa kayu hasil konstruksi bangunan, barter rokok dengan beras, dan sebagainya. Lalu bagaimana dia naik pesawat di kali itu, saat naik pesawat belum selumrah sekarang.

Sebenarnya saya sudah agak bosan mendengar cerita yang memang sudah pernah saya dengar sebelumnya. Tapi, saya menahan diri untuk tidak menginterupsi dan selalu menyimak cerita beliau dengan serius. Saya juga tidak mengecek handphone sama sekali. Alhamdulillah ya Allah berikan kekuatan dan petunjuk, hehe. Jadi, saya tidak menyesal melakukan itu. Saya katakan ke diri saya sendiri dalam hati, “Arya, bisa jadi ini adalah saat terakhir kamu bercengkerama dengan beliau. Bisa jadi ini adalah saat terakhir kamu mendengar cerita beliau. So please, cherish the moment". And I did it!

Dan benar saja, saat itu adalah kesempatan terakhir saya mendengar cerita dari beliau :(. Terakhir waktu idulAdha kemarin, alhamdulillah masih bisa video call bersama beliau.

Semoga beliau husnul khotimah ya. I will really miss him.

Sunday, July 04, 2021

You Are Strong

I know that everyone is different.

I know that things that might work for a person, doesn't necessarily work for another person.

This including the "you are strong" encouragement, that doesn't really applicable for me. I know it might work for someone else, including you, but personally it's difficult for me to implement it. It's not that I rebuke if a person say that to me. I really know that they mean well, and it's nothing but a good encouragement. And I really appreciate anyone who say that to me.

You know why it's difficult for me? Since in the past, I heavily relied on me, myself, and I. Every hardship, every difficulties, I relied on my capabilities, skills, and toughness to overcome. Until one time, I encountered a problem, that might be look simple for others persons, but for me it's pretty difficult. I was extremely devastated, frustrated. I was, depressed.

I always thought if I tried very hard, gave it all I had, I could overcome it. That's the thing that I always believed. 

Some people said keep trying, and I could do it all. I had the power in me. But for me, it's exhausting. 

Then, at one moment, I surrendered everything to Allah. He is the one who strong. He is the one who capable. He's the Almighty. Lahaula walaquwwata Illabillah. "There is no power nor strength except by Allah."

That doesn't mean that I'm not trying. That doesn't mean that I'm only praying. I should, even must, try hard, pretty hard. But at the same time, I should know that there are things that I can't control. And the thing that I want, the thing that I want, doesn't always imply the thing is good for me. Based on my small, insufficient, knowledge, I do think it's good for me. Bu the truth is, I don't know.

By surrendering to Allah, I know, and believe, that He, Yang Paling Pengasih dari segala yang pengasih, Yang Paling Penyayang dari segala yang penyayang, yang Paling Kuat dari segala yang kuat, would choose The Best for me.

And yes, I'm not strong at all. But I have Allah, The Almighty.

Friday, July 02, 2021

Milan Day 1

09:23. Milan Time. Sarapan di penginapan. Nah, Milan ini waktunya berbeda 5 jam lebih lambat dibanding dengan di Jakarta, karena sedang Daylight Saving Time (DST) juga saat itu. Kalau sedang tidak DST, bedanya 6 jam.

Terus dipikir-pikir, kenapa juga ya saya jam segitu udah sarapan saja, dan sudah mandi juga! Padahal, baru juga landing malam sebelumnya.

Apakah saya merasa jetlagged? Hmm, I dont think so.

Selama di Milan, saya tinggal di penginapan, lebih tepatnya hostel sih, hehe. Alhamdulillah dapet sarapan, since I was so hungry. Lumayan dapet sarapan ala bule, yaitu roti, croissant, yoghurt, buah, susu, dan juga telur. 


Brera


300719.10:53. Hmm, saya lupa kenapa dulu bisa ke tempat ini ya? haha. Jadi, ini ceritanya lagi meresapi (not meres sapi) hari pertama saya di Eropa. Dan saya memang baru pertama kali ke Eropa untuk pertama kali.

Dan di salah satu panduan, disarankan untuk start slow, warming up dulu dengan berjalan di kawasan yang tidak terlalu ramai (panduan macam apa ini?). Jadi, di area ini terdapat Brera Academy of Fine Arts and the Brera Art Gallery, sehingga membuat Brera dikenal sebagai lingkungan seniman dan juga tempat dengan atmosfer bohemia. Jangan tanya atmosfer bohemia kayak gimana. Saya juga ga tau. Lol.

Kesan saya terhadap kawasan ini: cantik! Bangunannya terlihat elegan, tidak terlalu ramai. 

3001719.11:01. Jalan sekitar 8 menit dari Brera, tibalah saya di Piazza della Scala, dan akhirnya saya bertemu someone familiar, yaitu Paman Leo! Yeps, di piazza tersebut terdapat Monumen Da Vinci di tengah-tengahnya. Piazza alias square ini ukurannya tidak besar. Konon dulunya berupa jalanan, baru diubah di akhir tahun 1800an gitu.
 

Monumen Leonardo da Vinci


Leonardo da Vinci pernah bekerja dan tinggal di Milan di akhir abad 15, di dalam Sforza Castle, reportingnya ke semacam adipatinya Milan gitu (di Indo ga ada sih ya)

Kerjaan si Leo ini adalah take care of the cultural life and the arts at the court of Milan. Ini ngga saya terjemahin abis bingung. Semacam kepala dinas kebudayaan gitu apa?

Di masa ini, Leo sibuk dengan membuat penemuan-penemuan, pengembangan sistem kanal di Navigli, konstruksi pintu air, dan juga studi terhadap anatomi manusia. Selama di Milan, Leo juga membuat karya The Last Supper.

Patung Leonardo ini memakai topi hydro-engineer, saat sedang membuat sistem kanal di Milan. Ya emang di foto ini kurang gitu keliatan sih topinya, ambil dari berbagai macam sudut juga tetap kurang jelas, wkwk.

Nah, kalau melihat di bagian bawahnya, terdapat 4 patung yang merupakan 4 muridnya si Leo. Di antara tiap patung murid ini, terdapat relief yang menunjukkan berbagai macam bidang yang dikuasai oleh Leo, mulai dari 1) anatomy 2)hydraulic engineering 3)painting, dan 4) architecture. Yaa, kayakya keahlian Leo lebih banyak dari itu ya, tapi kalo semua ditaro susah juga buat monumennya.

Di square ini saya menyempatkan diri untuk duduk di kursi yang ada sambil melihat orang berlalu lalang, dan googling untuk mencari tempat makan. 
 
 

Teatro Alla Scala


Melanjutkan dari postingan sebelumnya, jadi patung Leo ini menghadap ke bangunan Teatro alla Scala, atau La Scala Theatre.

Konon katanya, ini adalah salah satu opera house atau teater yang paling prestisius di seluruh dunia. 

Sebagian besar artis opera terbaik Italia dan dunia, pernah tampil di La Scala. Kalau kata National Geographic, La Scala ini adalah teater opera paling prestisius di seluruh dunia. Bagi saya yang orang awam, mungkin paling familiar dengan Sydney Opera House ya. Tapi karena opera asalnya dari Italia juga, ya wajar sih La Scala ini dikatakan paling prestisius. Kayak ini versi ori lah kalau mau menikmati opera. Saya juga sebelom ke sini ga tau kalo ada yang namanya La Scala, taunya malah pas naik cruise ship venue theaternya bernama La Scala. Eh taunya pas di Milan ketemu aslinya.

Menariknya, katanya penonton La Scala ini juga terkenal demanding. Pernah ada yang perform kurang oke, dan kemudian di-boo oleh penonton. Rada2 bully juga ya penonton Italia. Lol. 

One of La Scala’s most ingenious features is the concave channel under the wooden floor of the orchestra; this is credited with giving the theater superb acoustics (mau terjemahin cuma ribet).

Nah, kalau dibaca dari artikel tentang La Scala kan kayaknya akan wow banget gitu ya. Tapi ternyata kalo dari luar, biasa banget. Beda lah sama Sydney Opera House yang dari eksteriornya saja sudah unik. Nah, La Scala ini kayaknya fokus dari sisi interior dan juga menang dari sisi historis sih.

Saya ngga masuk ke dalamnya. Memang ga gitu niat sih, hehe. 
 
 

Luini Pazzerotti


3010719.12:57. Hari sudah mulai siang dan saya mulai lapar.

Makanan pertama yang saya beli di Milan: panzerotti. Soalnya bingung banget mau beli apaan. Terus ini ada dalam rekomendasi hasil googling di Internet, selain itu: cukup terjangkau! 

Antriannya rame banget! Bahkan saya harus mulai mengantri dari luar bangunan. Dan antriannya agak ngga rapih gitu. Udah gitu menunya pakai bahasa Italia pula.

Panzerotti apaan sih? Hasil copas: panzerotti is a turnover dough that looks like a calzone, filled with many choices of ingredients like tomato or cheese and fried like a donut. Panzerotti katanya berasal dari Puglia, kota kecil di Italia, yang kemudian dibawa ke Milan. Pas diliat, yaa macam roti laah, hehe.

Saya pilih aja yang saya ngerti: mozarella, dan juga nama keju lainnya. lol. yaa, basically roti keju lah. haha.

Karena di situ ga ada tempat dine in, bingung dong makan dimana. Lalu saya melihat sejumlah orang duduk di trotoar sambil makan. Saya ikutan ngemper lah, haha. Udah jauh2 sampe Milan, ya gaya makan tetep Indo lah ya.
 

Castello Sforzesco


300719.1314. Setelah makan siang, saya berjalan kaki ke The Castello Sforzesco aka Sforzesco Castle, yang dibangun pada abad ke 15 oleh Sforza. Abad segitu kalo di Indo masih jaman kerajaan Majapahit ya. Alasan ke sini ya karena deket aja, jadi sekalian jalan.

Btw saya baru sadar sekarang di Instagram udah bisa bikin blank paragraph, jadi ga usah dikasih simbol yang sebenernya kurang perlu (saya biasanya kasih titik)

Masuk ke bagian dalam, tampak terasa bahwa kastil ini dibangun di atas sisa benteng. Mungkin karena formasi bangunannya kali ya. Dan kastil ini adalah salah satu citadel terbesar di Eropa.

Citadel adalah the core fortified area of a town or city. It may be a castle, fortress, or fortified center. Hmm, intinya adalah inti pertahanan. Susah juga ya menerjemahkan sesuatu yang belum tentu apa padanannya. Bisa sih *dicoba* diterjemahkan, tapi akan ada makna yang hilang. 

Di kastil ini katanya terdapat beberapa fresco buatan Leonardo Da Vinci dan Bramante. Nope, tapi bukan di foto ini.

Nah, kalo ini saya ngga tau foto apaan. Tapi berasa unik aja masuk ke kastil yang terkesan garang, terus ketemu corak ini di langit2 dengan warna orange yang mengesankan ceria gitu. Walau mungkin ini melambangkan matahari yang merupakan simbol kemegahan dan sumber energi kali ya. Well, enough overthinking.

Artinya: Welcome to my heart. Sorry, it's a mess. Hasil Google Translate barusan, pas ambil foto sih ngga tau artinya, ternyata emo juga ya. Langsung kebayang backsong lagu Italia seriosa mendayu-dayu.

Jadi, di belakangnya Sforza Castle, terdapat paru-paru kota yang bernama Parco Sempione atau Simplon Park kalaj bahasa Inggrisnya. Taman ini merupakan taman yang terbesar di Milan, dan cocok untuk leyeh-leyeh.

Saya pun duduk di rumput, minum air bekal saya dan menikmat sekitar. Saat itu terdapat pengamen (pemusik) taman yang sedang memainkan gitar. Mau saya foto cuma ga berani, takut ga sopan. Jadinya saya hanya merekam video (slide 2) sekelebatan saja, dan suara yang terdengar pun sayup-sayup.

Saturday, June 19, 2021

Flying to Milan

Monday, 29 July 2019. 07:53.

Saya agak lupa mengapa saya memilih hari itu untuk terbang. Kalau ngga salah yang jadwalnya lumayan oke dari pilihan-pilihan yang kurang oke. Jadi, sebenernya saya inginnya sampai di kota tujuan itu siang hari, sehingga saat mencari penginapan bisa lebih mudah. Selain itu, kalau saat siang, saya merasa lebih aman.

Walaupun saat itu, jatohnya sampai di Milan malam juga sih. sekitar jam 9-an gitu. Tapi ini mendingan dibanding jadwal lain yang kalo ga salah tiba di Milan itu tengah malam.

Oleh karena khawatir dengan jadwal ketibaan saya yang malam hari, saya sempat tanya ke kawan saya yang tinggal di Italia, apakah lebih baik saya menginap di airport saja untuk malam itu dibanding ke penginapan. Tapi tidak semua airport kan nyaman untuk diinapi. Ujung-ujungnya saya tetap booking penginapan sih, dan lihat entar lah bagaimana situasi ketika saya sampai di Milan.

Berangkat

Entah mengapa bagi saya, pemeriksaan di imigrasi itu kadangkala membuat nervous. Mungkin karena pernah mendengar cerita bahwa hal-hal yang tidak terduga terkadang bisa saja terjadi di imigrasi. 

Nah, waktu mau keluar dari Indonesia pun, si petugas imigrasi-nya menanyakan mengapa saya perginya lama banget. Saya jawab saja, "sekali-kali nih mba, sudah stress bekerja". Petugas-nya hanya manggut-manggut dan akhirnya memberikan cap pada paspor saya. Alhamdulillah.

Penerbangan saya ke Qatar kala itu menyenangkan, karena tidak ada orang yang duduk di sebelah saya. haha. Itu adalah ke-3 kalinya saya ke Doha, Qatar yang seluruhnya adalah untuk transit. 

Di Qatar pun saya hanya transit sebentar sebelum berangkat ke Milan.

Di perjalanan ini, saya kehilangan Kindle saya. Saya sungguh lupa ketinggalan di mana. Dugaan saya waktu dalam proses pemeriksaan di airport ya. Biasa kan, laptop dan tablet diminta dikeluarkan dari tas. Tampaknya saya sudah mengeluarkan dari tas, tetapi lupa untuk memasukkannya kembali. Ya sudah lah mau bagaimana lagi kan. 7

Bagaimana perasaan saya selama di perjalanan? Frankly speaking, anxious. Soalnya ada beberapa yang bilang kalau di Italia itu tidak gitu aman, termasuk Milan. Saya jadinya riset dong di Internet, bagaimana kondisi keamanan di Milan. Saya temukan bahwa di Milan itu relatif aman dibanding kota lainnya di Italia. Apalagi, Milan adalah kota terkaya di Italia. Informasi tersebut cukup melegakan.

Tapi, saya riset lebih lanjut dong mengenai tips-tips keamanan di Milan. Tidak ada yang khusus sih, paling katanya kalau ada orang yang berpenampilan mencurigakan, lebih baik jauhi saja. (Ya iya laah). Lalu saya sampai cari tips cara membeli tiket transport dari airport ke penginapan bagaimana, bayarnya harus pakai apa, berhentinya di stasiun apa, jam berapa, berapa kali berenti, dan sebagainya. Tidak lupa saya mencari tahu kondisi keamanan tiap tiap stasiun dan memilih the safest one.

Jadi, basically once I landed in Milan, I know everything what I should do to get to the accommodation. My goal that day is only one: sukses sampai di penginapan dengan selamat.


Tiba di Milan

Alhamdulillah tiba di Milan dengan selamat. Imigrasinya pun ngga kepo, ga nanyain kenapa saya lama-lama di Eropa, haha. Airportnya menurut saya cukup oke.

Setelah keluar dari imigrasi (atau sebelum ya?), yang saya lakukan adalah mengganti SIM Card, jadi saya bisa mengakses Internet sesegera mungkin. Saya merasa aman kalau handphone saya nyala dan aktif, serta bisa terhubung ke orang-orang.

Di Milan Airport, saat itu ada semacam corner ini, yang menurut saya sangat artsy. Saya merasa benar bahwa saya tiba di Eropa, haha.

Saya kemudian beli tiket kereta airport di vending machine, pembayaran menggunakan credit card (atau kartu Jenius ya? lupa). Sudah beli tiket, tidak diperiksa pula sama sekali, haha. Eh, sebenarnya ada sih kayak semacam mesin untuk stamp gitu sebelum masuk ke ruang kereta, tapi tidak ada yang menjaga, dan juga tidak ada turnstile-nya. Lalu saya memerhatikan orang-orang, ada yang stamp dan ada yang engga. Makin bingung lah, haha. Saya sih stamp aja ya.

Malam itu, tidak terlalu banyak penumpang yang menaiki kereta bersama-sama saya. Nama keretanya adalah Malpensa Aeroporto. Keretanya sendiri bagus sih, macam kereta airport lah, dimana ada space sendiri untuk tempat menaruh koper-nya.

Sekitar 37 menit, saya kemudian sampai di Stasiun Cadorna, kemudian dari situ naik Metro. Nah, syukurlah di zaman sekarang ada teknologi bernama Google Maps ya, jadi saya bisa tau berapa pemberhentian yang perlu dilalui sebelum turun di stasiun yang paling dekat dengan penginapan.

Saya turun di Stasiun Lima, yang berada di via Buenos Aires. Via artinya jalan. Nah, jalan Buenos Aires ini merupakan jalan yang lebar dan ramai. Cukup sulit membuat asosiasinya dengan jalan di Jakarta. Secara lebar jalan, ada 3 lanes dikali 2, berarti total sekitar 6 lanes. Di Jakarta, ga ada ya yang lebarnya segituan. Jl Soedirman itu 8 lanes kan ya?

Terus, yang membuat beda lagi adalah trotoarnya yang sangat lebar, dan jadi bisa ada meja-meja restoran yang diposisikan di trotoar itu. Tapi hal tersebut tidak sampai membuat trotoar tidak nyaman karena sangat lebar.

Nah, tadinya udah khawatir saja bahwa begitu saya sampai, karena sudah malam, jalanan akan sangat sepi dan gelap sehingga rawan. Eh, begitu selesai naik eskalator dan keluar Stasiun Lima, jalanan masih ramai dong. Tidak sampai crowded, tapi masih banyak orang duduk-duduk di restoran, masih banyak yang berlalu lalang, dan saya pun merasa aman.

Perlu sekitar 5 menit berjalan untuk sampai ke penginapan. Tidak sulit untuk menemukan penginapan tersebut. Alhamdulillah penjaga penginapan pun menyambut saya dengan ramah, dan ada welcome drink pula! Haha.

Jadi, ini sebenernya juga rada2 capsule hotel sih. Mereka punya beberapa kamar. Di dalam kamarnya ada bunk bed, tapi juga ada yang single bed. Gw pilih yang single bed lah. Udah capek jauh-jauh, I think I wanna sleep in peace.

Nah, untuk masuk kamarnya ada passcode gitu yang perlu dimasukkan. Dan, untuk masuk ke kabin saya, ada semacam passcode juga.

Yang saya suka dari tempatnya adalah: bersih! Kemudian, walau cabin saya kecil, tapi saya merasa cukup private karena suara-suara di sekitar ga gitu kedengeran seperti di bobobox.

Saya pun sedikit unpacking, bebersih, kemudian tertidur pulas.





Saturday, May 29, 2021

Euro Trip - Prolog

This topic is integrated with my posts in Instagram.

Since some of the sub-topic is picture-less, so I think I will just write them in this blog instead of in Instagram. Although I might take some excerpt from here to be put in Instagram.

I know this will be my longest travelog for quite a while. Why? Since the travel duration itself was a whopping 2 months. Yeah, I had a 2-month Euro Trip in 2019! For European, 2 months of traveling perhaps not something unusual. But for Indonesian, I think not many people do that, especially at my age that time, which is 20-ish. I kid, I was in my early 30-ish when doing the traveling.

Why?

Some people guessed that I did that for "soul searching". I beg to differ. I dont think that my Euro Trip was to do soul searching, or something spiritual like that. I just wanted to do it, and alhamdulillah at that time, I had sufficient time and resource to do it.

Did I eager to travel to Europe? Actually not. I never had an ambition or dream to travel to that continent. It's like a nice to have, although previously I had never landed in Europe. So yeah, the timing was just right. And, few months after that, pandemic appeared. I'm so thankful with the timing.

And I was single and still had no dependent. If I already married (and had children), traveling for 2 months sound very unlikely.

But, why 2 months?

Hmm, actually one of my close friends had his wedding ceremony in the end of September. Jadi event itu semacam yang membatasi durasi Euro Trip saya. If there's no event that I had to attend in Indonesia, my trip could be longer I guess. But not sure about the financial wise, whether I was willing to spend more, lol. Umm, atau sebenernya bisa aja sih kalau mau jadi parasit di rumah kawan di Eropa. Lol.

How about my work?

So, I had resigned from the company that I worked for. When submitting resignation, I actually hadn't signed to any workplace. I even had not submitted a single job application. That made me able to travel for 2 months.

 

Financial

Mungkin pertanyaan berikutnya adalah, keadaan finansial gimana dong? Prior doing this trip, I had a consultation first of course with my financial advisor. Basically, my financial condition was fine, and I was allowed to having a trip. Alhamdulillah.

 

The Reaction


Salah satu kekhawatiran saya mengenai traveling saat unemployed adalah tanggapan orang-orang. "Wah pengangguran!", "Udah gila ya jalan-jalan lama pas lagi ga kerja?". Well, berhubung ini bukan pertama kalinya saya ambil gap months (bukan gap year), jadi secara mental sudah lebih siap sih. Dan biasanya pikiran-pikiran itu hanya ramai dalam otak sendiri saja, syukurnya orang-orang yang ditemui juga relatif woles. Dan, bisa jadi pikiran2 negatif itu muncul di saya, karena saya berpikir bahwa dunia berpusat ke saya. Padahal, orang pun punya urusan sendiri-sendiri dan don't really mind toward mine. Kalo ada yang julid, itu pun di luar kontrol saya, dan I should not mind it. Sebagian besar tanggapan malah, "wah seru banget, pengen juga dong", haha. Semoga that's honest reaction ya.

Alhamdulillah tidak ada yang merendahkan atau gimana ya, dari keluarga dan kawan dekat sangat suportif ya. Kawan tidak dekat juga tidak ada yang nyinyir atau gimana, haha.

Salah satu bude saya, usia hampir 80 tahun, yang saya ceritakan tentang rencana saya ini juga sangat suportif, to my amazement. Saya tadinya pikir kalau semakin tua, orang akan semakin konservatif dan menolak mentah-mentah rencana traveling ke tempat jauh selama 2 bulan tanpa pemasukan. Ternyata beliau sangat mendukung, bahkan tampak lebih semangat dibanding saya. Haha. Beliau ini juga senang traveling sih, dan kemudian beliau memberikan saran tempat-tempat untuk dikunjungi di Eropa.

 

Preparation

Beli Tiket

Jadi, yang pertama kali saya lakukan adalah: beli tiket pesawat! Jadi, saya beli tiket promo non-refundable PP ke Milan, Italia. Kenapa Milan? Soalnya I know deep within my soul that my calling is fashion. Milan, sebagai salah satu ibukota fashion dunia, is the right choice.

Becanda deng, gila aja. Soalnya tiket promonya saat itu yang paling murah adalah yang ke Milan, pakai Qatar Airways yang saat itu adalah best airline bahkan mengalahkan Singapore Airline. Sebenarnya bahkan saya ga tau di Milan ada apa saja, haha. Saya tau ada 2 klub sepakbola super terkenal yang bermarkas di kota ini, tapi saya bukan penggemar sepak bola juga.

Setelah beli tiket PP, dari situ saya menyusun rencana kasar mengenai rute perjalanan saya. Well, hal tersebut diperlukan juga kan untuk mengurus visa, jadi sekalian lah.

 

Persiapan Itinerary

Actually, going to Euro Trip, ALONE, was quite a leap of faith for me. Since I had never done any solo trip abroad before (well, I don't count business trip). Okay, when I was going to Japan and China, there were some partial solo trips, but they don't count either.

For me, 2 months is not a short time. Saya adalah seorang yang cenderung cukup merencanakan sesuatu kalau mau bepergian, bukan yang impulsif gitu. Jadi, maunya sih well-planned ya. Tapi, merencanakan trip untuk 2 bulan bukanlah hal yang mudah dilakukan. Bahkan, tampaknya perencanaan mendetail untuk 2 bulan perjalanan bukanlah hal yang baik untuk dilakukan. Sangat banyak faktor yang tidak atau belum saya ketahui, dan memasang rencana detail yang belum tentu bagus dan feasibilitynya dipertanyakan, hanya membuat stress saja.

Jadi, waktu sebelum berangkat, saya bikin ancer2 tujuan saja selama 2 bulan. Mulai deh buka-buka peta Eropa, negara ini tetanggaan dengan negara apa ya. Lalu, bertanyalah saya kepada kawan-kawan mengenai kota apa yang perlu dikunjungi dan berapa lama waktu yang baiknya.

Sebelum terbang, lebih kurang itinerary yang confirmed hanya selama 2 minggu pertama saya di Eropa. Adapun minggu-minggu selanjutnya, saya susun sambil jalan saja. Jadi, itinerary yang dimaksud pun lebih ke hari ini saya di kota apa, dan menginap di penginapan apa. Tapi, saya belum tahu tuh di kota X akan mengunjungi obyek wisata apa saja di hari ke berapa, haha. Biasanya saya kalau bikin itinerary itu sangat detail.

Persiapan paspor

Since I would enter and exit Europe via Italy, so I applied my Schengen Visa via Italy. I submitted the application at VFSGlobal in Kuningan City. Alhamdulillah everything was fast and quick, and no issue at all.

I only got 2 months plus 3 days visa duration (multiple entry) though, only 3 days longer than my stay duration in Europe. I'm wondering why it's so rigid with the visa duration. Some people suggested that I should opt to submit via Netherland, since they are more generous. But I thought submitting via Italy was a safer option.

 

Persiapan Barang Bawaan

Kalau traveling, alhamdulillah seringnya berupa leisure traveling, jadi bawa koper dan menginap di hotel. Nah, tapi berhubung kali ini perjalanan hemat, perangkat yang perlu dibawa pun perlu disesuaikan.

Dari yang biasanya bawa koper, kali ini saya menggunakan backpack supaya lebih fleksibel. Misal: untuk ke penginapan kan most likely akan naik turun ke subway station. Tidak semua station dilengkapi dengan elevator dan atau eskalator. Nah, lebih mudah pakai backpack daripada harus gotong koper. Thanks to Vicky yang sudah meminjamkan tas-nya untuk saya pakai (ngga modal banget ya saya? haha).


Barang-barang yang dibawa:
1. Pakaian bersih untuk 10 hari.
2. Vacuum bag. This is A MUST! Saya kayaknya bawa 3 vacuum bag deh beserta 1 pompanya. Awalnya saya tidak percaya, tapi ini efektif banget sih dalam mereduksi volume barang bawaan. Well, tapi kadang-kadang ada yang bocor gitu plastiknya. Jadi, menurutku bawa cadangan perlu.
3. Gembok
4. Detergent. Terkadang saya perlu mencuci secara manual juga.
5. Lunch Box. Nah, ini perlu untuk masukin kelebihan makanan, untuk bisa dimakan selanjutnya.
6. Laptop. Ini ga terlalu sering dipake sih, tapi saya orangnya belom bisa untuk mobile-only.
7. Kindle. Nah, tapi ini sayangnya hilang entah di mana. Dugaan saya di Qatar sih waktu perjalanan berangkat.


Persiapan Mental


Jadi, kalo cerita ke orang-orang kalo saya mau solo traveling ke Eropa, salah satu respons yang sering saya terima adalah "duh, hati-hati ya. di sana kurang aman.", "wah, di sana banyak copet, waspada ya", dan sebagainya.

I know maksud mereka baik, dan mereka sangat care terhadap saya. Namun, I cant lie kalau hal tersebut membuat saya sangat khawatir. Bahkan, sehari sebelum berangkat ke Milan, yang saya sibuk lakukan adalah

Tapi ada bagusnya sih, saya jadi revisit akomodasi yang akan saya tinggali. Saya baca secara mendetail review2nya, mulai dari lingkungan sekitar, keamanan, dan sebagainya. Bahkan saya juga liat di Google Street gimana penampakan sekitarnya, haha. Maklum, tadinya prioritas utama dalam memilih akomodasi adalah: harga dan rating. Kemudian, saya memasukkan lokasi sebagai kriteria utama juga dalam pemilihan akomodasi.

Nah, tadinya di Milan itu rencana awalnya menginap di daerah yang agak pinggiran. Lalu, saya coba deh liat di Google Maps, akses ke daerah situ dari airport atau pusat kota bagaimana. Bahkan saya juga lihat kondisi jalan dan bangunan di situ seperti apa, haha. Kalau agak-agak mencurigakan, saya langsung ganti yang lain. Duh, gimana ya, soalnya bukan nginep di hotel berbintang atau gimana, yang lokasinya hampir pasti oke. Haha.


 


Saturday, May 15, 2021

Kasih Sayang dan Syukur

Kayaknya khutbah agama Islam di Indonesia ga banyak ya yang ambil dari sudut pandang besarnya kasih sayang Allah. MUNGKIN apa karena kondisi masyarakatnya belum pas ya? Atau saya saja yang jarang denger ceramah agama. Memang ada sih beberapa yang ambil dari angle ini, tapi tidak banyak. Kalau ada, biasanya isinya standar.

Di case saya secara personal, menggunakan angle ini terkadang lebih berhasil ngena, daripada angle dimana fokus di dosa dan hukuman saja. Karena apa? Kalau fokus dosa dan hukuman saja, tendensinya akan menimbulkan ketakutan dan orang akan menjauh. Walau dosa dan hukuman itu memang ada, dan perlu ada. Perjalanan spiritual saya secara pribadi lebih untuk mengejar cinta Yang Kuasa, mengharap cinta-Nya. Hmm, kayaknya agak terlalu bombastis ya bahasanya. Kalo simple-nya, ingin disayangi Tuhan supaya hati tenang (dari yang tadinya tidak tenang), dan dibantu terhadap segala macam permasalahan yang dihadapi, since my life is not always sugar and everything nice.

Dan saya yakin Allah itu pasti cinta makhluk yang mengharap cinta-Nya. Keyakinan ini datang tidak seketika, dan tidak begitu saja. Sometimes you need to experience some moment in your life to realize it.

Al-Fatihah dan Kasih Sayang


Surah paling terkenal di dalam Islam adalah Alfatihah. Bisa jadi yang non-muslim juga pernah denger tentang surah ini. Karena apa? Ini surat yang perlu dan wajib untuk dilafalkan tiap rakaatnya pada saat shalat. Tiap rakaat lho. Kalo ada satu surah yang wajib dihafal oleh pemeluk agama Islam, inilah surahnya.

Nah, surah Alfatihah ini kan ada 7 ayat.

  • Ayat pertama: In the Name of Allah, the Most Beneficent, the Most Merciful. (Dengan nama Allah, yang Maha Pengasih, Maha Penyayang)
  • Ayat kedua: All the praises and thanks be to Allah, the Lord of the ‘Alamin (mankind, jinns and all that exists).
  • Ayat ketiga: The Most Beneficent, the Most Merciful. (Maha Pengasih, Maha Penyayang)
  • Ayat keempat dst tidak dituliskan di sini ya.


2 dari 7 ayat ini emphasize kata Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Perlu diperhatikan bahwa kata Maha ini sifatnya lebih dari kata “sangat”, artinya "paling" yang superlative.

Maha Pengasih artinya lebih pengasih dari yang paling pengasih yang bisa kita bayangkan. Coba kita berhenti 10 detik, kemudian bayangkan siapa orang paling baik yang kamu tahu.

Sudah?

Jawabannya bisa bermacam-macam. Mungkin ibu kamu, sahabat kamu, atau siapapun. Nah, kebaikan orang tersebut hanya setitik dari kebaikan Allah. Although we may not consciously feel it.

Kalo ga salah kata Rahman dan Rahim ini, sulit sekali ditemukan padanan dalam bahasa Inggris (apalagi bahasa Indonesia-nya). Karena pilihan kata di bahasa Indonesia jauh lebih sedikit dibandingkan bahasa Inggris. Dan pilihan kata di Bahasa Inggris juga lebih sedikit dibandingkan di Bahasa Arab. Jadi, Most Beneficient, Most Merciful not really the best words.

Ohya, familiar dengan kata rahim kan dalam bahasa Indonesia?

Jadi, Rahim di surah Alfatihah itu ya memang memiliki arti atau akar yang sama dengan rahim ibu, womb. Lah, apa hubungannya? Jadi, rahim adalah tempat dimana segala sesuatu, mulai dari makanan, zat hidup, proteksi, dan lain lain diberikan oleh sang ibu kepada janin tanpa henti. Basically semua yang diperlukan oleh janin akan disediakan dan diberikan oleh sang ibu dengan tulus. Kenapa tulus? Soalnya, si janin ga bisa kasih apapun ke sang ibu kan? It's a total unconditional love. Mau si janin acting up kayak gimana pun, tetap saja si Ibu akan nurture si janin tersebut.

That's how Allah loves us. Allah loves us, like, a lot.

Keindahan Al-Quran


Nah, terus ya, Al-Quran itu memang indah banget. Pemilihan katanya itu sangat juara. Bahkan kenapa suatu kata itu ga ditaro di situ, itu pun ada maknanya.

Pas masih kecil, saya heran sih, kenapa Nabi Muhammad SAW kok mujizat terbesarnya itu Al-Quran. Dalam hati saya berpikir, "kok cemen sih? kok mujizat nabi yang lain lebih keren?". Ya bandingin aja mujizat Nabi Ibrahim AS, misalnya tidak mempan dibakar, atau Nabi Musa AS yang membelah laut, dan lainnya. 

Setelah belajar, saya sekarang tahu, dan juga acknowledge, bahwa mujizat-mujizat rasul sebelumnya tersebut sifatnya momentual, dan perlu menjadi saksi untuk bisa merasakannya langsung.

Al-Quran ini sifatnya kitab, yang bisa selalu direfer sampai kapan pun, yang kalau ditelaah pun seperti ga ada habis-habisnya kehebatannya. Zaman sekarang, dimana ilmu pengetahuan semakin diagungkan, hal ini menjadi semakin relevan. Like, each and every one of us could experience and see it by ourselves about the amazingness of AlQuran, bahkan ribuan tahun setelah diturunkan. And it is, personal. Like, the way I experience it, might be different than the way you experience it. Kayak baca novel aja, mungkin part yang ngena untuk si A, beda dengan part yang ngena untuk si B.

Kalau di dunia digital kan sekarang kan anggapannya, "once you post it online, it stays there forever". Al-Quran mungkin similar ya, it's like an eternal miracle gitu dengan banyaknya mushaf yang tersebar dan juga orang yang menghafal. Like it stays in the world, forever.

 

Little Nuance That Matters

Kalau dengar khutbah-khutbah ulama yang jago bahasa Arab, Al-Quran begitu intricate even to every single detail. Salah satu simple thing yang does matter contohnya gini:
QS 2:186 - "And when My servants ask you concerning Me, I am nearby indeed". [ID: Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat.]

Klausa pertama: "And when My servants ask you concerning Me"
Klausa kedua: "I am nearby indeed"

Jadi, di klausa pertama kan Allah berkata kepada Nabi Muhammad SAW, dengan menjadikan umatnya dengan kata ganti ketiga. 

Tapi di klausa kedua, dimana bisa ditambahkan kata "katakan pada mereka bahwa Aku dekat", atau "maka katakan bahwa Aku dekat" atau "katakan Aku dekat". Tapi ini yang dipilih adalah "Aku dekat" saja. It's so short. Seakan-akan Allah tidak meminta Rasulullah untuk mengatakan kepada umatnya sebagai perantara untuk menjawab pertanyaan tersebut. Tapi Allah seakan-akan, "hey, let me say this to them Myself". It's.so.profound.

Hmm, ga tau sih ya, mungkin ada yang bilang ini agak mengada-ada, kebetulan, dan bisa-bisanya aja interpretasi. Tiap orang bisa jadi punya persepsi yang berbeda-beda. Tapi bagi saya, little nuance, small simple detail ini, yang bisa jadi does matter and pretty impactful.

Tapi ga semua terjemahan atau tafsir sedetail ini memang. Tapi karena di terjemahan itu suka ditambah-tambah artinya dengan tujuan "agar lebih mudah dimengerti", tapi that little nuance yg menurutku jadi hilang.

Ohya, saya bukan ahli Al-Quran ya, dan bukan untuk argumentasi juga. Mungkin dibilang kalay cherry pick ayat yang dirasa pas. And I know there are some critiques out there about Al-Quran, and it's not my current capability to answer.


Gratefulness


Gw orangnya ga pengen untuk mengecewakan orang yang sudah percaya sama gw, orang yang sudah baik ke gw. Kalo ada orang yang sudah baik ke gw, pasti gw pengen bales berbuat baik ke orang tersebut, even bales yang lebih baik lagi kalau memungkinkan.

Gimana kalo berbuat baik ke orang lain? Dulu, biasanya gw expect setelah gw berbuat baik ke orang, orang lain tersebut juga kemudian perlu untuk berbuat baik ke gw, at least say thanks gitu. Jadi sifatnya resiprokal. Atau bisa dibilang pamrih gak ya?

Misalnya ada temen numpang di rumah selama sebulan, gratis, terus dikasih makan tiap hari. Nah, tapi dia ga bilang terima kasih sama sekali. Pasti dongkol kan. Sebenernya tergantung apa yang sudah gw lakukan/berikan sih, kadar dongkolnya akan berbeda juga, hehe.

Kalau sekarang, gw mencoba untuk ikhlas. I mean, I do good deeds to others is only for the sake of doing good deeds. Why? since that's a good thing. As simple as that. umm, that's not simple actually, haha. Karena apa yang orang lain lakukan itu kan ga bisa kita kontrol ya. Tapi berbuat baik kan merupakan perintah Allah, dan saya tahu dan yakin bahwa Allah lah yang akan membalas. Berbuat baik adalah lebih ke urusan saya dengan Allah, bukan agar orang lain berbuat baik juga ke saya. Berbuat baik is the right thing to do.

Jadi, kalo misalnya berbuat baik ke orang lain, terus tapi orang lain tersebut ga berterima kasih, gapapa nih sekarang? Hmm, sekarang sih agak mendingan ya. haha. Kadang-kadang (atau cukup sering? lol) sih masih ada rasa kesalnya, namanya juga manusia. I'm not a emotionless human. Tapi gw mulai membiasakan diri untuk acknowledge hal tersebut, dan kemudian choose how to react the way I want saja. Easier said than done, and sometimes I fail too. But I can always try, right?

Terus apa hubungannya dengan bersyukur? Cerita di atas coba angle-nya agak dimodifikasi, dimana bukan gw sebagai yang memberikan sesuatu, tapi gw yang mendapatkan sesuatu. Nah, sudahkan gw menjadi orang yang pandai berterima kasih?

Gw cukup suka untuk ambil this kind of angle. Jadi, gw dalam posisi sebagai orang yang banyak dapat kemudahan, tapi apakah gw sudah termasuk orang yang pandai berterima kasih? apakah gw sudah termasuk sebagai orang yang pandai bersyukur?

Jadi ingat suatu kisah Nabi Muhammad SAW, dan kayaknya kisah ini sudah cukup terkenal.

Rasulullah SAW prayer would cause his feet to swell and crack due to its length. Ā’ishah (radiyallāhu ‘anhā) said to him, “Why do you do this when Allāh has already forgiven your previous and later sins?” He responded, “Should I not be grateful servant [of Allāh]?”

Sebelumnya, my reaction would be just "oooh". Lately, I can quite understand to that one, karena gw coba menggunakan analogi kali ya? Gini, misalnya gw dikasih rumah seharga 50 M oleh Bapak X misalnya secara cuma-cuma. Pasti dong gw akan say thanks ke dia. Ga hanya say thanks, mungkin gw akan kasih hampers senilai puluhan juta, or even more, or gw akan coba melakukan like almost anything that will make Bapak X happy. Since what I do or give actually means nothing dengan 50 M yang gw dapet. Dan kalo ada orang yang tanya, "ngapain sih kirim hampers, padahal kamu udah dapet lho rumahnya". it's like, hello, can I be grateful toward the one who has been so kind to me? It's just, the right thing to do.

Nah, angle ini yang menurut saya jarang digunakan. Atau mungkin itu perasaan saya saja ya? Atau di case yang saya alami saja? Atau memang banyak penceramah Islam yang kurang pandai menyampaikan saja? Biasanya cukup "text book", dan sudah sangat sering didengar, sehingga terkesan kosong tanpa arti, atau sedikit arti. Atau arti yang hanya menyentuh kognitif tanpa afektif.

Seandainya sedikit dimodifikasi, misal, "orang tua kamu sayang sama kamu? Nah, Allah itu sayang kamu berlipat-lipat dibandingkan sayangnya orang tua kamu itu". Mungkin, kalau kalimat itu yang digunakan, pendengarnya juga jadi ikut berpikir. Nope, tidak hanya ikut berpikir, tapi juga ikut merasa. Karena, bukankah merasa itu hal yang esensial? Dan saya berpikir bahwa perasaan yang jernih merupakan hasil dari pikiran yang jernih pula.

Bang Adit

Saya biasa memanggilnya Bang Adit. Yeps, nama Raditya Oloan sempat menjadi trending topic di Twitter, dan katanya kawan-kawan, postingan tentang bang Adit banyak berseliweran di menu Discover masing-masing di Instagram. Dan lately saya juga menemukan hal yang sama, banyak artis, situs berita, pemuka agama kristiani, dan orang-orang yang kehidupannya banyak disentuh oleh bang Adit, muncul di Instagram.

Selain Instagram, berita tentang bang Adit juga muncul di lambe turah, LINE Today, trending di Youtube, dan lain-lainnya.

Bang Adit memang seorang pendeta yang terkenal, dan dikenal sebagai pendeta yang berbeda dan juga inspiratif. Hal ini dapat dilihat dari komentar-komentar mengenai Bang Adit. Kawan-kawan saya yang pernah mengikuti ceramah bang Adit banyak yang memujinya.

 

Saudara Sepupu

Sebagai sepupunya, saya follow dong instagramnya, jadi cukup sering membaca postingan-postingannya, walau kepercayaan yang kami yakini berbeda.

Banyak yang tidak menyangka kalau kami adalah saudara sepupu, padahal muka kami cukup mirip (yeah, I don't need to argue on that :p). Mungkin karena saya adalah seorang muslim dan bang Adit adalah seorang protestan. Selain itu, marga bang Adit adalah Panggabean - yang merupakan marga Batak. Saya sendiri tidak memiliki marga dalam nama saya.

Dunia ini sungguh berjalan dengan cara yang sangat unik. Eyang saya bisa dikatakan seorang pemeluk Islam yang sangat taat. Bahkan, beliau adalah salah satu perintis dibentuknya Majelis Ulama Indonesia. Salah satu sahabat dekat beliau tidak lain adalah Buya HAMKA, salah satu ulama legendaris di Indonesia yang mendapatkan gelar Doktor Honoris Kausa dari Universitas Al Azhar Kairo.

Eyang saya memiliki 6 orang anak. Ibunda dari bang Adit, yang merupakan anak ke-4, memutuskan untuk convert ke protestan. That's if you're curious how the diversity came. Suami dari bude datang dari keluarga protestan yang juga sangat taat. Tak heran bahwa anak-anaknya pun merupakan pun pemeluk protestan yang sangatlah taat, bahkan sampai ke cucu-cucunya.

Kami pun menghormati dan menghargai keyakinan satu sama lain. Kalau di Islam, istilahnya lakum dinukum waliyadin. Jadi ya sesuai dengan keyakinan masing-masing saja. Walau memang, tidak dapat dipungkiri bahwa hubungan keluarga kami menjadi berjarak.

 

Video Viral: Jangan Kasih Titik

Salah satu video tentang bang Adit yang viral akhir-akhir ini adalah tentang titik dan koma. 

Jangan kasih titik kalau Tuhan masih mau kasih koma. Kalau lo masih hidup hari ini, berarti belum titik. Tuhan masih belum berhenti sama hidup lo. Cerita yang Dia sedang buat belum berakhir [watch video here]

Kurang lebih isinya begini, seringkali saat kita sedang down, banyak berbuat keburukan, kita menganggap bahwa hidup kita sudah tuntas. Kita menganggap bahwa hidup kita sudah tidak ada gunanya, berakhir, mencapai Titik.

Namun, bagi Tuhan, kondisi tersebut masih Koma, kita masih bisa berubah, kita masih bisa memperbaiki hidup dan mengambil jalan yang positif. Jangan terburu-buru mengambil kesimpulan, bahwa hal tersebut adalah akhir segalanya. Di situ, bang Adit juga mengatakan terima kasih kepada orang-orang terdekatnya yang masih mempercayainya walau saat itu keadaannya sungguh terpuruk.

Masa Lalu Bang Adit dan Keluarga

Bagi yang tidak familiar dengan kisah hidupnya bang Adit. Saya akan bercerita sedikit di sini. Bang Adit dulu pernah menggunakan narkoba. Kenakalannya ini dimulai sejak ia masih duduk di bangku SMP. Bang Adit pun pernah dipenjara saat duduk di bangku kuliah (ini saya ambil dari internet). Pergaulan bebas yang kelam menuntun Radit hingga titik di mana Joanna Alexandra (pacar kemudian menjadi istri bang Adit) hamil di luar nikah.

Oke, balik lagi di saat bang Adit mengatakan terima kasih kepada orang-orang yang masih mempercayainya di saat dia dalam kekelaman. Orang - yang - mempercayainya. Yeps, keluarga bang Adit menurut saya adalah keluarga yang sangatlah baik pribadinya. They are really genuine. Not only that, they are pretty good with words! Jadi, postingan-postingan Instagram mereka, apapun topiknya, sangat menarik untuk disimak kalimat-kalimatnya. They were, and are, a great support system for bang Adit.

I can't take credits for their family's warmthness. Since I think that has many factors, and I believe from Om Dondon's side (Bang Adit's father) also contributes many, or maybe even larger factor.

 

Keluarga Besar Saya

I want to share a bit of story from my side of family, yang sebetulnya ga ada kaitannya sih dengan case bang Adit di atas. Namun, ngomong-ngomong tentang keluarga yang baik, saya merasa sangat bersyukur berada dalam keluarga yang baik, menurut saya. Yes, every family has their own issue of course, tetapi menurut saya di keluarga saya masih quite civil lah, hehe. 

I have written the story about my Grandfather, which was a reaally nice person. My other families are also very kind and generous, an I feel so blessed with that.

Sebentar, mau nulis hal di bawah ini tapi sulit dan tricky. But let me try.

Some people are saying that I'm a nice person. Do I want to be called as a nice person? I cannot lie, of course yes I want, and I want to say "yes I am", haha. It's so much better than being called as a bad person, right? But am I a nice person? Or, do I think that I really am a nice person? Biasanya jawaban diplomatisnya adalah, "biarkan orang lain saja yang menilai". Tapi kalo sendainya saya, di dalam hati perlu menjawab, kira-kira jawaban apakah yang akan saya berikan?

I think I'm a regular person who try to be a nice person. 

Why I want to try to be a nice ? In my case, it's because I just want to mimic people in my surroundings, esp. my family. I just feel like that the warmth that I receive is sooo much, that it's inevitably overflowing to the surrounding. Perhaps that's what happen to my family as well. 

And like many other things, nice is relative. If in one occasion that I do something that perceived as nice by another person, perhaps because I already received that nice treatment earlier. And what I had received is probably much bigger. Then, sometimes I question myself, "is what I do already good enough?". and I believe it's not.

Ini susah banget sih, the fact is, karena begitu saya merasa bahwa saya sudah baik. It means that I am not. Tapi, jangan, dan janganlah berhenti untuk berbuat baik. Dan yang membuat lebih tricky lagi, apabila saya berbuat baik, pertanyaannya adalah untuk apa? Oke deh, misalnya saya berbuat tersebut benar-benar tidak untuk dipuji oleh orang lain, means berusaha menimalisasi sifat riya. Tapi, sudahkah saya berbuat tersebut tidak untuk membesarkan diri sendiri? Tidak untuk memuji diri sendiri? Di mana yang segala puji hanyalah milik Yang Kuasa. Dan kalo di beberapa paragraf sebelumnya ada frase "biarlah orang lain yang menilai", saat ini saya sih kurang setuju sama frase tersebut. Kenapa? Mungkin yang tepat untuk menilai hanyalah Yang Kuasa. I don't need other people judgment. Susah sih, haha. Gw ga yakin juga selalu berhasil melakukan ini. Entahlah seringan berhasil atau engganya, wkwk.

Saat menulis ini pun, apakah tujuan saya juga lurus ikhlas tidak untuk membesarkan diri sendiri? Semoga Allah selalu memberikan tuntutan dan petunjuk kepada kita. Aamiin.

I want to tell a story. I heard so many stories about how money (including inheritence) oftentimes create fued within a family. One person trying to get a share more than he/she deserves, or questioning the share obtained by the others.

I have a story about this in my family. My great grandmother once had a property, a house, that wasn't sold until few years ago. When the house was succesfully sold, the remaining homework was to distribute the money to the heirs. At that time, all of the children of my grandmother had passed away. Only the grandchildren remained. In total, there were almost 30 grandchildren, 30 persons who had interest toward the inheritence. So, how's it going? Everything went well amazingly, so they followed the regulation according to Sharia Law. Not even one objection. The concern was even more to the "Don't forget to pay the Zakat for this property". My mother was amazed with that outcome.

Perhaps, it's only perhaps, it could go so smooth like that since everyone was already content with their own life. But, well, a certain maturity still needs to be instilled to each and everyone. Since we know, sometimes people with a lot of money still have a lot of greed in them.

Ya, agak ga nyambung sih ya sama postingan awal, tapi intinya bagaimana keluarga adalah faktor yang sangat penting dalam pembentukan karakter.

 

Bang Adit's Uniqueness in Preaching

Back to Bang Adit. Here's some of the good quotes that he had shared in the past. Although it's part of his speech, that actually part of another religion's preach. But I think that as long as the content is good and right, and doesn't inflict upon my religion, that's totally fine.

Some of quotes of Bang Adit can be found here

I think what makes his words so enticing is his genuinity in speaking, his honesty. His simplicity when conveying something. His words are soo relatable.

And since he had been on a very dark path in the past, he knows how it feels like in that dark situation. But what makes him special is, he doesn't judge. I mean, some people that have found their way to the right path, then they turn to judge the others. Okay, by saying this, it sounds like I'm judging them. Lol. Oh, this is difficult.


How to Not Judge

Daan menurutku ini sangat tricky ya. Misalnya ada orang yang saat ini menggunakan narkoba. I can only judge the activity, not the person. Dulu, saya cukup sering membaca tentang hal ini, dimana single activity itu berbeda dengan individu as a whole. Tapi dulu saya merasa hal itu adalah mustahil. Ga mungkin dong, kan yang melakukan aktivitas tersebut adalah orang, ya pasti lah orang itu yang bersalah.

Well, menurut saya tergantung konteks ya. Kalau di dalam konteks hukum, ya memang seperti itu, dan memang terkait dengan pelanggaran hak orang lain, sehingga keadilan perlu ditegakkan.

Tapi di dalam konteks ini (duh, bingung menamakan nama konteksnya apa), judge terhadap aktivitas dan individu, bisa, perlu, dan mungkin wajib dipisahkan. Ga tau sih wajib apa engga, haha. Soalnya menurut saya similar thing juga perlu diterapkan dengan identitas diri.

Misalkan saya gagal melakukan meraih sesuatu (misal: masuk Harvard, masuk McKinsey, dan sebagainya), apakah berarti saya orang yang gagal? Atau misalnya di dunia kerjaan, apakah apabila terdapat suatu project, atau bahkan tidak perform di suatu perusahaan, apakah berarti termasuk orang yang gagal? Tidak semudah itu mengatakan seseorang adalah orang yang gagal, karena dimensi seseorang manusia itu bisa sangat banyak. Ada sebagai pekerja, sebagai ayah, ibu, teman, anak, dan sebagainya. Kegagalan di suatu aspek, belum tentu gagal di aspek yang lain. Selain itu, gagal itu sangat relatif, tergantung konteks waktu juga. Since people can change. Yes, people can change.

Those words: people can change. Sounds simple, but it has a huge consequence.

Mengapa saya merasa bahwa saya tidak berhak untuk menghakimi orang lain?
1. Saya tidak tahu kehidupan orang lain tersebut keseluruhannya.
Kalau perjalanan hidup saya bener2 plek2 sama dengan dia, bisa jadi saya melakukan hal yang sama, atau mungkin bisa jadi yang saya lakukan lebih buruk. Atau bisa jadi di sisi lain hidupnya dia, dia melakukan hal-hal yang jauuh lebih baik dibandingkan kebanyakan orang. Ataupun jangan-jangan dia tidak pernah merasa dirinya sempurna, dan selalu berdoa dengan tulus, jauh lebih tulus dibandingkan doa orang-orang soleh. I never know.

2. Saya pun tidak sempurna.
Ini sudah jelas lah ya. haha. Saya pernah baca bahwa kita semua pendosa, tapi jenis dosanya saja yang berbeda. Hmm, kecuali Rasul kali ya yang memang sudah dijamin maksum aka tanpa dosa.

Well, tapi jangan sampai ini kita jadikan sebagai landasan, misal ada orang yang terlihat tanpa cela, "ah dia mah pintar aja ngumpetin dosanya". lol. Well, tapi memang dosa bukan lah sesuatu yang untuk diumbar sih. Walau tergantung konteks ya.

Ohya, misalnya seseorang tidak berbuat maksiat pun, bukan berarti luput dari dosa ya. Misalkan berbuat baik tapi niatnya untuk dipuji orang, itu pun dosa lho. Dan, itu terkadang sulit dihindari. Apalagi semakin besar, semakin terkenal, kecenderungan untuk ingin dipuji dan diagungkannya pun semakin besar. Tapi kayak paragraf di atas, ga boleh judge juga ke orang terkenal "ah, dia mah ngelakuin hal tersebut untuk dipuji". 

Tidak hanya untuk dipuji orang lain, tapi bagaimana juga menghindari membesarkan diri sendiri. Nah lho. Udah deh, ini sulit, saya masih perlu banyak belajar :))

3. Orang bisa saja berubah
Siapa tau orang tersebut di masa depan berubah, dan menjadi orang baik. Jaauh lebih baik dibandingkan dengan yang men-judge dia sebelumnya.

4. Saya bisa saja berubah
Bukannya tidak mungkin di masa depan saya berubah menjadi lebih tidak baik. Dan, keadaan berbalik. Karena itu tidak henti-hentinya memang perlu doa dan usaha untuk bisa tetap di jalan yang baik.

Dan menurut saya salah satu hal yang paling tricky dalam hidup ini adalah bagaimana tidak merasa lebih baik dibanding orang lain. Tidak merasa superior dibanding orang lain.


Sambutan di Pemakaman

Kebetulan saya berkesempatan untuk mengikuti pemakaman Bang Adit. Dan, sambutan di pemakaman bang Adit menurut saya juga menarik.

  • Jangan berusaha menjadi orang lain. Ini ditujukan kepada istri, anak, keluarga, dan juga orang lainnya. Jangan berusaha untuk menjadi bang Adit. Basically, jangan berusaha untuk menjadi orang lain, karena tidak akan bisa. Setiap orang punya keunikan masing-masing. Oleh karena itu, janganlah terbebani untuk menjadi pengganti bang Adit.
  • Bang Adit adalah orang yang jujur, yang tidak ragu untuk menyampaikan vulnerability dia, baik saat sebelum menjadi pendeta, maupun setelah menjadi pendeta.





Pakde Tutuk

 10 August 2017

His name is Basofi Soedirman, but I often call him Pakde Tutuk. ‘Not all men – tidak semua laki-laki’, is a popular song that he sang a long time ago. Perhaps most of millennials nowadays don’t know the song. But it was such a hit in its era. The album was also succeed to sold 1 million copies if I'm not mistaken.

 

Probably not all men are like him. Well, I don’t wanna talk about his career-life (covering military, government, art, politic, and some others), plentiful of journalistic medias have covered it.

I think one post will not sufficient to tell about his good character and kindness.

What I very admire is how he kept his feet on the ground despite of his achievement. And he could instill this character to other family members as well. His family is full of warmth. One of the warmest families I've ever known.

He's a very loving brother. My mom said that my uncle phoned her almost everyday just to check on her well-being. It's a simple gesture but very meaningful.

However, as a human, it's very possible that he made a mistake in the past. Please forgive him for any wrongdoings 🙏.

You'll be really missed Pakde. Your kindness, smile, warmth, banters, and good characters won't be forgotten. Semoga husnul khotimah. Aamiin.

About me

  • M.Rabindra Surya aka Arya aka Rabz
  • Male
  • CSUI
  • Twenty
  • Maaf kalo ada postingan dengan bahasa Inggris kacaubalau. Lagi belajar ^^"