Sunday, July 31, 2022

Kalimat Alhamdulillah dan ...

Kembali ke Arya's weekend rambling.. Kali ini tentang kalimat Alhamdulillah .

Alhamdulillah...

Biasanya kalimat ini disebut apabila sedang menerima hal baik atau mensyukuri sesuatu.

Namun, seorang guru kemudian mengingatkan, bahwa ucapan alhamdulillah, lebih dari itu.

Coba kita lihat ya terjemahan Bahasa Inggrisnya.

Terjemahan Bahasa Indonesianya, 'segala puji bagi Allah'.

Terjemahan Bahasa Inggrisnya, 'all praise and gratitude belong to God'. Sebagian besar menerjemahkan sebagai 'all praise' saja, tetapi some scholars berpendapat 'praise and gratitude'.

Yeps, agak berbeda kan terjemahan Bahasa Inggrisnya, dimana hamd memiliki tidak hanya satu karakteristik, tapi dua: pujian dan terima kasih.

Pujian adalah sesuatu yang inherent, activity independent. Adapun terima kasih disebabkan hal yg bersifat interaksi. A do something to B, then B thankful to A. Adapun pujian lebih ke karena sifat2 yang dimiliki A, sehingga A berhak dipuji.

Ok, balik ke kalimat Alhamdulillah ya.
JIKA, semua pujian itu milik Tuhan, maka berarti tidak ada setitik pujian pun yang sejatinya milik ciptaan-Nya.

Lalu, saya jadi berpikir, kalau di Islam, kalimat alhamdulillah diucapkan saat sedang mendapat nikmat. Adapun kalimat istiraj: innalillahi wa inna ilaihi rajiun (artinya: verily we belong to God and verily to him do we return) diucapkan saat sedang mendapat musibah.

Do you see the pattern? Yep, sejatinya, segala sesuatu, baik nikmat maupun musibah, diserahkan hanya kepada Yang Kuasa. 

Karena, alhamdulillah pun mengembalikan pujian kepada-Nya kan?

Seringkali saya saat mengucapkan alhamdulillah, dengan sengaja ataupun tidak, menganggap bahwa pujian atau nikmat tersebut attributable to myself, because of me, sambil meninggikan diri.

Padahal, kalimat alhamdulillah semestinya membuat diri tetap menjejak bumi. 

Kalimat alhamdulillah sejatinya membebaskan diri dari ingin dipuji.
Kalimat alhamdulillah sejatinya membebaskan diri dari ingin dapat validasi.
Kalimat alhamdulillah sejatinya menjaga ikhlas dalam hati.

Tidak mudah memang melepaskan atribut pujian dari diri.

Terus tiba-tiba saya teringat tentang yoga. Jadi, tujuan yoga adalah untuk mencapai moksha. Apakah itu moksha? Moksha is derived from the root, muc, which means to free, let go, release, liberate.

Intinya, tujuan yoga adalah untuk let go. Dan, agak mirip ya dengan makna hidup seorang muslim, yang setiap saatnya *semestinya* selalu mengembalikan kepada Yang Kuasa.

Terus, saya baru dengar podcast dari si Harari pengarang Sapiens, katanya hidup manusia itu meaningless in a way. I think that statement is kinda true, although I'd prefer a more proper term. Soalnya ya, kalau semua milik Tuhan, yaa I'm nothing other than God's creature.

Saturday, October 09, 2021

New Personal Site

Hi, I have a new blog. Please visit https://rabindra.id. Yay! Finally my personal website with personal domain name. lol.

For now, I put my travelog there, basically a copy of the writing from my Instagram account. But it's very possible that I write broader topics there.


See you!

Friday, August 27, 2021

Pakde Soendjojo

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Soendjojo Dirdjosoemarto, yang biasa dipanggil dengan Pakde Soen, telah berpulang ke rahmatullah 7 Agustus 2021 lalu. Pakde Soen merupakan kakak ipar yang tertua dari ibu saya. Usianya sudah sekitar 85 tahun.

Beliau tinggal di Bandung. Oleh karena itu, setiap lebaran sebelum pandemi, biasanya kami pergi ke Bandung untuk mengunjungi beliau. Ya, soalnya memang yang paling tua kan ya.

Pakde Soen merupakan sosok pengajar pendidikan sejati, dan selalu antusias dengan kegiatan mengajarnya. Beliau tadinya mengajar di IKIP, yang kemudian berubah menjadi UPI, lalu kemudian di Universitas Kuningan. Keahliannya adalah terkait dengan biologi dan pengetahuan alam.

Waktu saya coba googling, ternyata banyak juga ya buku yang telah ditulisnya. Ngga nyangka! Haha. Selama ini saya belum pernah mencoba googling nama beliau.

Yang membuat saya selalu teringat dengan beliau adalah suaranya yang berat dan sangat jawa sekali.

Beliau sudah tinggal di Bandung sejak akhir tahun 60-an

Salah satu hal yang sering diceritakan beliau adalah bagaimana beliau mengusulkan adanya nama jalan Pecah Kopi, yang apabila diterjemahkan ke Bahasa Inggris adalah Coffee Break.

Beliau orang yang sangat taat waktu. Kalau bermalam di rumahnya, biasanya jadwal makan pagi, siang, dan malam sangat on time. Misal jam 8 pagi, 12:30 siang, dan 19 malam. Dan kami semua lalu makan di meja makan bersama-sama.

Sudah dua lebaran ini kami tidak berlebaran di rumah beliau, karena terjadinya pandemi. Sungguh sangat kangen suasana kebersamaan bersama beliau.

Kalau ke Bandung, tidak bisa tidak saya menyambangi rumah beliau, walaupun sebentar. Ya, hal ini memang lebih karena didikan ortu sih. Intinya, kalau kami berkunjung ke rumah beliau, pasti beliau akan sangat senang.

Terakhir saya bertemu beliau dua tahun lalu waktu ke Bandung, sebelum pandemi terjadi. Beliau sangat senang bercerita, tak terkecuali pada saat kunjungan saya hari itu.

Saya ingat suasana saat itu. Malam hari, di meja makan hanya ada kami berdua, duduk berhadap-hadapan. Beliau bercerita dengan semangat sambil menikmati makanan yang disajikan. Salah satu condiment favorit beliau adalah sambal tomat yang sangat khas. Begitu selesai makan main course, dessert berupa buah tak pernah luput disajikan dan disantap.

Sudah beberapa tahun terakhir, beliau hobi bercerita tentang pengalamannya waktu ke Aceh dimana dia menjadi pengajar di sana. Saat itu, kalau ga salah memang ada program pendistribusian pengajar ke daerah-daerah yang dinilai lebih tertinggal.

Beliau bercerita bagaimana beliau berkreasi merakit kursi dari sisa-sisa kayu hasil konstruksi bangunan, barter rokok dengan beras, dan sebagainya. Lalu bagaimana dia naik pesawat di kali itu, saat naik pesawat belum selumrah sekarang.

Sebenarnya saya sudah agak bosan mendengar cerita yang memang sudah pernah saya dengar sebelumnya. Tapi, saya menahan diri untuk tidak menginterupsi dan selalu menyimak cerita beliau dengan serius. Saya juga tidak mengecek handphone sama sekali. Alhamdulillah ya Allah berikan kekuatan dan petunjuk, hehe. Jadi, saya tidak menyesal melakukan itu. Saya katakan ke diri saya sendiri dalam hati, “Arya, bisa jadi ini adalah saat terakhir kamu bercengkerama dengan beliau. Bisa jadi ini adalah saat terakhir kamu mendengar cerita beliau. So please, cherish the moment". And I did it!

Dan benar saja, saat itu adalah kesempatan terakhir saya mendengar cerita dari beliau :(. Terakhir waktu idulAdha kemarin, alhamdulillah masih bisa video call bersama beliau.

Semoga beliau husnul khotimah ya. I will really miss him.

Sunday, July 04, 2021

You Are Strong

I know that everyone is different.

I know that things that might work for a person, doesn't necessarily work for another person.

This including the "you are strong" encouragement, that doesn't really applicable for me. I know it might work for someone else, including you, but personally it's difficult for me to implement it. It's not that I rebuke if a person say that to me. I really know that they mean well, and it's nothing but a good encouragement. And I really appreciate anyone who say that to me.

You know why it's difficult for me? Since in the past, I heavily relied on me, myself, and I. Every hardship, every difficulties, I relied on my capabilities, skills, and toughness to overcome. Until one time, I encountered a problem, that might be look simple for others persons, but for me it's pretty difficult. I was extremely devastated, frustrated. I was, depressed.

I always thought if I tried very hard, gave it all I had, I could overcome it. That's the thing that I always believed. 

Some people said keep trying, and I could do it all. I had the power in me. But for me, it's exhausting. 

Then, at one moment, I surrendered everything to Allah. He is the one who strong. He is the one who capable. He's the Almighty. Lahaula walaquwwata Illabillah. "There is no power nor strength except by Allah."

That doesn't mean that I'm not trying. That doesn't mean that I'm only praying. I should, even must, try hard, pretty hard. But at the same time, I should know that there are things that I can't control. And the thing that I want, the thing that I want, doesn't always imply the thing is good for me. Based on my small, insufficient, knowledge, I do think it's good for me. Bu the truth is, I don't know.

By surrendering to Allah, I know, and believe, that He, Yang Paling Pengasih dari segala yang pengasih, Yang Paling Penyayang dari segala yang penyayang, yang Paling Kuat dari segala yang kuat, would choose The Best for me.

And yes, I'm not strong at all. But I have Allah, The Almighty.

Friday, July 02, 2021

Milan Day 1

09:23. Milan Time. Sarapan di penginapan. Nah, Milan ini waktunya berbeda 5 jam lebih lambat dibanding dengan di Jakarta, karena sedang Daylight Saving Time (DST) juga saat itu. Kalau sedang tidak DST, bedanya 6 jam.

Terus dipikir-pikir, kenapa juga ya saya jam segitu udah sarapan saja, dan sudah mandi juga! Padahal, baru juga landing malam sebelumnya.

Apakah saya merasa jetlagged? Hmm, I dont think so.

Selama di Milan, saya tinggal di penginapan, lebih tepatnya hostel sih, hehe. Alhamdulillah dapet sarapan, since I was so hungry. Lumayan dapet sarapan ala bule, yaitu roti, croissant, yoghurt, buah, susu, dan juga telur. 


Brera


300719.10:53. Hmm, saya lupa kenapa dulu bisa ke tempat ini ya? haha. Jadi, ini ceritanya lagi meresapi (not meres sapi) hari pertama saya di Eropa. Dan saya memang baru pertama kali ke Eropa untuk pertama kali.

Dan di salah satu panduan, disarankan untuk start slow, warming up dulu dengan berjalan di kawasan yang tidak terlalu ramai (panduan macam apa ini?). Jadi, di area ini terdapat Brera Academy of Fine Arts and the Brera Art Gallery, sehingga membuat Brera dikenal sebagai lingkungan seniman dan juga tempat dengan atmosfer bohemia. Jangan tanya atmosfer bohemia kayak gimana. Saya juga ga tau. Lol.

Kesan saya terhadap kawasan ini: cantik! Bangunannya terlihat elegan, tidak terlalu ramai. 

3001719.11:01. Jalan sekitar 8 menit dari Brera, tibalah saya di Piazza della Scala, dan akhirnya saya bertemu someone familiar, yaitu Paman Leo! Yeps, di piazza tersebut terdapat Monumen Da Vinci di tengah-tengahnya. Piazza alias square ini ukurannya tidak besar. Konon dulunya berupa jalanan, baru diubah di akhir tahun 1800an gitu.
 

Monumen Leonardo da Vinci


Leonardo da Vinci pernah bekerja dan tinggal di Milan di akhir abad 15, di dalam Sforza Castle, reportingnya ke semacam adipatinya Milan gitu (di Indo ga ada sih ya)

Kerjaan si Leo ini adalah take care of the cultural life and the arts at the court of Milan. Ini ngga saya terjemahin abis bingung. Semacam kepala dinas kebudayaan gitu apa?

Di masa ini, Leo sibuk dengan membuat penemuan-penemuan, pengembangan sistem kanal di Navigli, konstruksi pintu air, dan juga studi terhadap anatomi manusia. Selama di Milan, Leo juga membuat karya The Last Supper.

Patung Leonardo ini memakai topi hydro-engineer, saat sedang membuat sistem kanal di Milan. Ya emang di foto ini kurang gitu keliatan sih topinya, ambil dari berbagai macam sudut juga tetap kurang jelas, wkwk.

Nah, kalau melihat di bagian bawahnya, terdapat 4 patung yang merupakan 4 muridnya si Leo. Di antara tiap patung murid ini, terdapat relief yang menunjukkan berbagai macam bidang yang dikuasai oleh Leo, mulai dari 1) anatomy 2)hydraulic engineering 3)painting, dan 4) architecture. Yaa, kayakya keahlian Leo lebih banyak dari itu ya, tapi kalo semua ditaro susah juga buat monumennya.

Di square ini saya menyempatkan diri untuk duduk di kursi yang ada sambil melihat orang berlalu lalang, dan googling untuk mencari tempat makan. 
 
 

Teatro Alla Scala


Melanjutkan dari postingan sebelumnya, jadi patung Leo ini menghadap ke bangunan Teatro alla Scala, atau La Scala Theatre.

Konon katanya, ini adalah salah satu opera house atau teater yang paling prestisius di seluruh dunia. 

Sebagian besar artis opera terbaik Italia dan dunia, pernah tampil di La Scala. Kalau kata National Geographic, La Scala ini adalah teater opera paling prestisius di seluruh dunia. Bagi saya yang orang awam, mungkin paling familiar dengan Sydney Opera House ya. Tapi karena opera asalnya dari Italia juga, ya wajar sih La Scala ini dikatakan paling prestisius. Kayak ini versi ori lah kalau mau menikmati opera. Saya juga sebelom ke sini ga tau kalo ada yang namanya La Scala, taunya malah pas naik cruise ship venue theaternya bernama La Scala. Eh taunya pas di Milan ketemu aslinya.

Menariknya, katanya penonton La Scala ini juga terkenal demanding. Pernah ada yang perform kurang oke, dan kemudian di-boo oleh penonton. Rada2 bully juga ya penonton Italia. Lol. 

One of La Scala’s most ingenious features is the concave channel under the wooden floor of the orchestra; this is credited with giving the theater superb acoustics (mau terjemahin cuma ribet).

Nah, kalau dibaca dari artikel tentang La Scala kan kayaknya akan wow banget gitu ya. Tapi ternyata kalo dari luar, biasa banget. Beda lah sama Sydney Opera House yang dari eksteriornya saja sudah unik. Nah, La Scala ini kayaknya fokus dari sisi interior dan juga menang dari sisi historis sih.

Saya ngga masuk ke dalamnya. Memang ga gitu niat sih, hehe. 
 
 

Luini Pazzerotti


3010719.12:57. Hari sudah mulai siang dan saya mulai lapar.

Makanan pertama yang saya beli di Milan: panzerotti. Soalnya bingung banget mau beli apaan. Terus ini ada dalam rekomendasi hasil googling di Internet, selain itu: cukup terjangkau! 

Antriannya rame banget! Bahkan saya harus mulai mengantri dari luar bangunan. Dan antriannya agak ngga rapih gitu. Udah gitu menunya pakai bahasa Italia pula.

Panzerotti apaan sih? Hasil copas: panzerotti is a turnover dough that looks like a calzone, filled with many choices of ingredients like tomato or cheese and fried like a donut. Panzerotti katanya berasal dari Puglia, kota kecil di Italia, yang kemudian dibawa ke Milan. Pas diliat, yaa macam roti laah, hehe.

Saya pilih aja yang saya ngerti: mozarella, dan juga nama keju lainnya. lol. yaa, basically roti keju lah. haha.

Karena di situ ga ada tempat dine in, bingung dong makan dimana. Lalu saya melihat sejumlah orang duduk di trotoar sambil makan. Saya ikutan ngemper lah, haha. Udah jauh2 sampe Milan, ya gaya makan tetep Indo lah ya.
 

Castello Sforzesco


300719.1314. Setelah makan siang, saya berjalan kaki ke The Castello Sforzesco aka Sforzesco Castle, yang dibangun pada abad ke 15 oleh Sforza. Abad segitu kalo di Indo masih jaman kerajaan Majapahit ya. Alasan ke sini ya karena deket aja, jadi sekalian jalan.

Btw saya baru sadar sekarang di Instagram udah bisa bikin blank paragraph, jadi ga usah dikasih simbol yang sebenernya kurang perlu (saya biasanya kasih titik)

Masuk ke bagian dalam, tampak terasa bahwa kastil ini dibangun di atas sisa benteng. Mungkin karena formasi bangunannya kali ya. Dan kastil ini adalah salah satu citadel terbesar di Eropa.

Citadel adalah the core fortified area of a town or city. It may be a castle, fortress, or fortified center. Hmm, intinya adalah inti pertahanan. Susah juga ya menerjemahkan sesuatu yang belum tentu apa padanannya. Bisa sih *dicoba* diterjemahkan, tapi akan ada makna yang hilang. 

Di kastil ini katanya terdapat beberapa fresco buatan Leonardo Da Vinci dan Bramante. Nope, tapi bukan di foto ini.

Nah, kalo ini saya ngga tau foto apaan. Tapi berasa unik aja masuk ke kastil yang terkesan garang, terus ketemu corak ini di langit2 dengan warna orange yang mengesankan ceria gitu. Walau mungkin ini melambangkan matahari yang merupakan simbol kemegahan dan sumber energi kali ya. Well, enough overthinking.

Artinya: Welcome to my heart. Sorry, it's a mess. Hasil Google Translate barusan, pas ambil foto sih ngga tau artinya, ternyata emo juga ya. Langsung kebayang backsong lagu Italia seriosa mendayu-dayu.

Jadi, di belakangnya Sforza Castle, terdapat paru-paru kota yang bernama Parco Sempione atau Simplon Park kalaj bahasa Inggrisnya. Taman ini merupakan taman yang terbesar di Milan, dan cocok untuk leyeh-leyeh.

Saya pun duduk di rumput, minum air bekal saya dan menikmat sekitar. Saat itu terdapat pengamen (pemusik) taman yang sedang memainkan gitar. Mau saya foto cuma ga berani, takut ga sopan. Jadinya saya hanya merekam video (slide 2) sekelebatan saja, dan suara yang terdengar pun sayup-sayup.

Saturday, June 19, 2021

Flying to Milan

Monday, 29 July 2019. 07:53.

Saya agak lupa mengapa saya memilih hari itu untuk terbang. Kalau ngga salah yang jadwalnya lumayan oke dari pilihan-pilihan yang kurang oke. Jadi, sebenernya saya inginnya sampai di kota tujuan itu siang hari, sehingga saat mencari penginapan bisa lebih mudah. Selain itu, kalau saat siang, saya merasa lebih aman.

Walaupun saat itu, jatohnya sampai di Milan malam juga sih. sekitar jam 9-an gitu. Tapi ini mendingan dibanding jadwal lain yang kalo ga salah tiba di Milan itu tengah malam.

Oleh karena khawatir dengan jadwal ketibaan saya yang malam hari, saya sempat tanya ke kawan saya yang tinggal di Italia, apakah lebih baik saya menginap di airport saja untuk malam itu dibanding ke penginapan. Tapi tidak semua airport kan nyaman untuk diinapi. Ujung-ujungnya saya tetap booking penginapan sih, dan lihat entar lah bagaimana situasi ketika saya sampai di Milan.

Berangkat

Entah mengapa bagi saya, pemeriksaan di imigrasi itu kadangkala membuat nervous. Mungkin karena pernah mendengar cerita bahwa hal-hal yang tidak terduga terkadang bisa saja terjadi di imigrasi. 

Nah, waktu mau keluar dari Indonesia pun, si petugas imigrasi-nya menanyakan mengapa saya perginya lama banget. Saya jawab saja, "sekali-kali nih mba, sudah stress bekerja". Petugas-nya hanya manggut-manggut dan akhirnya memberikan cap pada paspor saya. Alhamdulillah.

Penerbangan saya ke Qatar kala itu menyenangkan, karena tidak ada orang yang duduk di sebelah saya. haha. Itu adalah ke-3 kalinya saya ke Doha, Qatar yang seluruhnya adalah untuk transit. 

Di Qatar pun saya hanya transit sebentar sebelum berangkat ke Milan.

Di perjalanan ini, saya kehilangan Kindle saya. Saya sungguh lupa ketinggalan di mana. Dugaan saya waktu dalam proses pemeriksaan di airport ya. Biasa kan, laptop dan tablet diminta dikeluarkan dari tas. Tampaknya saya sudah mengeluarkan dari tas, tetapi lupa untuk memasukkannya kembali. Ya sudah lah mau bagaimana lagi kan. 7

Bagaimana perasaan saya selama di perjalanan? Frankly speaking, anxious. Soalnya ada beberapa yang bilang kalau di Italia itu tidak gitu aman, termasuk Milan. Saya jadinya riset dong di Internet, bagaimana kondisi keamanan di Milan. Saya temukan bahwa di Milan itu relatif aman dibanding kota lainnya di Italia. Apalagi, Milan adalah kota terkaya di Italia. Informasi tersebut cukup melegakan.

Tapi, saya riset lebih lanjut dong mengenai tips-tips keamanan di Milan. Tidak ada yang khusus sih, paling katanya kalau ada orang yang berpenampilan mencurigakan, lebih baik jauhi saja. (Ya iya laah). Lalu saya sampai cari tips cara membeli tiket transport dari airport ke penginapan bagaimana, bayarnya harus pakai apa, berhentinya di stasiun apa, jam berapa, berapa kali berenti, dan sebagainya. Tidak lupa saya mencari tahu kondisi keamanan tiap tiap stasiun dan memilih the safest one.

Jadi, basically once I landed in Milan, I know everything what I should do to get to the accommodation. My goal that day is only one: sukses sampai di penginapan dengan selamat.


Tiba di Milan

Alhamdulillah tiba di Milan dengan selamat. Imigrasinya pun ngga kepo, ga nanyain kenapa saya lama-lama di Eropa, haha. Airportnya menurut saya cukup oke.

Setelah keluar dari imigrasi (atau sebelum ya?), yang saya lakukan adalah mengganti SIM Card, jadi saya bisa mengakses Internet sesegera mungkin. Saya merasa aman kalau handphone saya nyala dan aktif, serta bisa terhubung ke orang-orang.

Di Milan Airport, saat itu ada semacam corner ini, yang menurut saya sangat artsy. Saya merasa benar bahwa saya tiba di Eropa, haha.

Saya kemudian beli tiket kereta airport di vending machine, pembayaran menggunakan credit card (atau kartu Jenius ya? lupa). Sudah beli tiket, tidak diperiksa pula sama sekali, haha. Eh, sebenarnya ada sih kayak semacam mesin untuk stamp gitu sebelum masuk ke ruang kereta, tapi tidak ada yang menjaga, dan juga tidak ada turnstile-nya. Lalu saya memerhatikan orang-orang, ada yang stamp dan ada yang engga. Makin bingung lah, haha. Saya sih stamp aja ya.

Malam itu, tidak terlalu banyak penumpang yang menaiki kereta bersama-sama saya. Nama keretanya adalah Malpensa Aeroporto. Keretanya sendiri bagus sih, macam kereta airport lah, dimana ada space sendiri untuk tempat menaruh koper-nya.

Sekitar 37 menit, saya kemudian sampai di Stasiun Cadorna, kemudian dari situ naik Metro. Nah, syukurlah di zaman sekarang ada teknologi bernama Google Maps ya, jadi saya bisa tau berapa pemberhentian yang perlu dilalui sebelum turun di stasiun yang paling dekat dengan penginapan.

Saya turun di Stasiun Lima, yang berada di via Buenos Aires. Via artinya jalan. Nah, jalan Buenos Aires ini merupakan jalan yang lebar dan ramai. Cukup sulit membuat asosiasinya dengan jalan di Jakarta. Secara lebar jalan, ada 3 lanes dikali 2, berarti total sekitar 6 lanes. Di Jakarta, ga ada ya yang lebarnya segituan. Jl Soedirman itu 8 lanes kan ya?

Terus, yang membuat beda lagi adalah trotoarnya yang sangat lebar, dan jadi bisa ada meja-meja restoran yang diposisikan di trotoar itu. Tapi hal tersebut tidak sampai membuat trotoar tidak nyaman karena sangat lebar.

Nah, tadinya udah khawatir saja bahwa begitu saya sampai, karena sudah malam, jalanan akan sangat sepi dan gelap sehingga rawan. Eh, begitu selesai naik eskalator dan keluar Stasiun Lima, jalanan masih ramai dong. Tidak sampai crowded, tapi masih banyak orang duduk-duduk di restoran, masih banyak yang berlalu lalang, dan saya pun merasa aman.

Perlu sekitar 5 menit berjalan untuk sampai ke penginapan. Tidak sulit untuk menemukan penginapan tersebut. Alhamdulillah penjaga penginapan pun menyambut saya dengan ramah, dan ada welcome drink pula! Haha.

Jadi, ini sebenernya juga rada2 capsule hotel sih. Mereka punya beberapa kamar. Di dalam kamarnya ada bunk bed, tapi juga ada yang single bed. Gw pilih yang single bed lah. Udah capek jauh-jauh, I think I wanna sleep in peace.

Nah, untuk masuk kamarnya ada passcode gitu yang perlu dimasukkan. Dan, untuk masuk ke kabin saya, ada semacam passcode juga.

Yang saya suka dari tempatnya adalah: bersih! Kemudian, walau cabin saya kecil, tapi saya merasa cukup private karena suara-suara di sekitar ga gitu kedengeran seperti di bobobox.

Saya pun sedikit unpacking, bebersih, kemudian tertidur pulas.





Saturday, May 29, 2021

Euro Trip - Prolog

This topic is integrated with my posts in Instagram.

Since some of the sub-topic is picture-less, so I think I will just write them in this blog instead of in Instagram. Although I might take some excerpt from here to be put in Instagram.

I know this will be my longest travelog for quite a while. Why? Since the travel duration itself was a whopping 2 months. Yeah, I had a 2-month Euro Trip in 2019! For European, 2 months of traveling perhaps not something unusual. But for Indonesian, I think not many people do that, especially at my age that time, which is 20-ish. I kid, I was in my early 30-ish when doing the traveling.

Why?

Some people guessed that I did that for "soul searching". I beg to differ. I dont think that my Euro Trip was to do soul searching, or something spiritual like that. I just wanted to do it, and alhamdulillah at that time, I had sufficient time and resource to do it.

Did I eager to travel to Europe? Actually not. I never had an ambition or dream to travel to that continent. It's like a nice to have, although previously I had never landed in Europe. So yeah, the timing was just right. And, few months after that, pandemic appeared. I'm so thankful with the timing.

And I was single and still had no dependent. If I already married (and had children), traveling for 2 months sound very unlikely.

But, why 2 months?

Hmm, actually one of my close friends had his wedding ceremony in the end of September. Jadi event itu semacam yang membatasi durasi Euro Trip saya. If there's no event that I had to attend in Indonesia, my trip could be longer I guess. But not sure about the financial wise, whether I was willing to spend more, lol. Umm, atau sebenernya bisa aja sih kalau mau jadi parasit di rumah kawan di Eropa. Lol.

How about my work?

So, I had resigned from the company that I worked for. When submitting resignation, I actually hadn't signed to any workplace. I even had not submitted a single job application. That made me able to travel for 2 months.

 

Financial

Mungkin pertanyaan berikutnya adalah, keadaan finansial gimana dong? Prior doing this trip, I had a consultation first of course with my financial advisor. Basically, my financial condition was fine, and I was allowed to having a trip. Alhamdulillah.

 

The Reaction


Salah satu kekhawatiran saya mengenai traveling saat unemployed adalah tanggapan orang-orang. "Wah pengangguran!", "Udah gila ya jalan-jalan lama pas lagi ga kerja?". Well, berhubung ini bukan pertama kalinya saya ambil gap months (bukan gap year), jadi secara mental sudah lebih siap sih. Dan biasanya pikiran-pikiran itu hanya ramai dalam otak sendiri saja, syukurnya orang-orang yang ditemui juga relatif woles. Dan, bisa jadi pikiran2 negatif itu muncul di saya, karena saya berpikir bahwa dunia berpusat ke saya. Padahal, orang pun punya urusan sendiri-sendiri dan don't really mind toward mine. Kalo ada yang julid, itu pun di luar kontrol saya, dan I should not mind it. Sebagian besar tanggapan malah, "wah seru banget, pengen juga dong", haha. Semoga that's honest reaction ya.

Alhamdulillah tidak ada yang merendahkan atau gimana ya, dari keluarga dan kawan dekat sangat suportif ya. Kawan tidak dekat juga tidak ada yang nyinyir atau gimana, haha.

Salah satu bude saya, usia hampir 80 tahun, yang saya ceritakan tentang rencana saya ini juga sangat suportif, to my amazement. Saya tadinya pikir kalau semakin tua, orang akan semakin konservatif dan menolak mentah-mentah rencana traveling ke tempat jauh selama 2 bulan tanpa pemasukan. Ternyata beliau sangat mendukung, bahkan tampak lebih semangat dibanding saya. Haha. Beliau ini juga senang traveling sih, dan kemudian beliau memberikan saran tempat-tempat untuk dikunjungi di Eropa.

 

Preparation

Beli Tiket

Jadi, yang pertama kali saya lakukan adalah: beli tiket pesawat! Jadi, saya beli tiket promo non-refundable PP ke Milan, Italia. Kenapa Milan? Soalnya I know deep within my soul that my calling is fashion. Milan, sebagai salah satu ibukota fashion dunia, is the right choice.

Becanda deng, gila aja. Soalnya tiket promonya saat itu yang paling murah adalah yang ke Milan, pakai Qatar Airways yang saat itu adalah best airline bahkan mengalahkan Singapore Airline. Sebenarnya bahkan saya ga tau di Milan ada apa saja, haha. Saya tau ada 2 klub sepakbola super terkenal yang bermarkas di kota ini, tapi saya bukan penggemar sepak bola juga.

Setelah beli tiket PP, dari situ saya menyusun rencana kasar mengenai rute perjalanan saya. Well, hal tersebut diperlukan juga kan untuk mengurus visa, jadi sekalian lah.

 

Persiapan Itinerary

Actually, going to Euro Trip, ALONE, was quite a leap of faith for me. Since I had never done any solo trip abroad before (well, I don't count business trip). Okay, when I was going to Japan and China, there were some partial solo trips, but they don't count either.

For me, 2 months is not a short time. Saya adalah seorang yang cenderung cukup merencanakan sesuatu kalau mau bepergian, bukan yang impulsif gitu. Jadi, maunya sih well-planned ya. Tapi, merencanakan trip untuk 2 bulan bukanlah hal yang mudah dilakukan. Bahkan, tampaknya perencanaan mendetail untuk 2 bulan perjalanan bukanlah hal yang baik untuk dilakukan. Sangat banyak faktor yang tidak atau belum saya ketahui, dan memasang rencana detail yang belum tentu bagus dan feasibilitynya dipertanyakan, hanya membuat stress saja.

Jadi, waktu sebelum berangkat, saya bikin ancer2 tujuan saja selama 2 bulan. Mulai deh buka-buka peta Eropa, negara ini tetanggaan dengan negara apa ya. Lalu, bertanyalah saya kepada kawan-kawan mengenai kota apa yang perlu dikunjungi dan berapa lama waktu yang baiknya.

Sebelum terbang, lebih kurang itinerary yang confirmed hanya selama 2 minggu pertama saya di Eropa. Adapun minggu-minggu selanjutnya, saya susun sambil jalan saja. Jadi, itinerary yang dimaksud pun lebih ke hari ini saya di kota apa, dan menginap di penginapan apa. Tapi, saya belum tahu tuh di kota X akan mengunjungi obyek wisata apa saja di hari ke berapa, haha. Biasanya saya kalau bikin itinerary itu sangat detail.

Persiapan paspor

Since I would enter and exit Europe via Italy, so I applied my Schengen Visa via Italy. I submitted the application at VFSGlobal in Kuningan City. Alhamdulillah everything was fast and quick, and no issue at all.

I only got 2 months plus 3 days visa duration (multiple entry) though, only 3 days longer than my stay duration in Europe. I'm wondering why it's so rigid with the visa duration. Some people suggested that I should opt to submit via Netherland, since they are more generous. But I thought submitting via Italy was a safer option.

 

Persiapan Barang Bawaan

Kalau traveling, alhamdulillah seringnya berupa leisure traveling, jadi bawa koper dan menginap di hotel. Nah, tapi berhubung kali ini perjalanan hemat, perangkat yang perlu dibawa pun perlu disesuaikan.

Dari yang biasanya bawa koper, kali ini saya menggunakan backpack supaya lebih fleksibel. Misal: untuk ke penginapan kan most likely akan naik turun ke subway station. Tidak semua station dilengkapi dengan elevator dan atau eskalator. Nah, lebih mudah pakai backpack daripada harus gotong koper. Thanks to Vicky yang sudah meminjamkan tas-nya untuk saya pakai (ngga modal banget ya saya? haha).


Barang-barang yang dibawa:
1. Pakaian bersih untuk 10 hari.
2. Vacuum bag. This is A MUST! Saya kayaknya bawa 3 vacuum bag deh beserta 1 pompanya. Awalnya saya tidak percaya, tapi ini efektif banget sih dalam mereduksi volume barang bawaan. Well, tapi kadang-kadang ada yang bocor gitu plastiknya. Jadi, menurutku bawa cadangan perlu.
3. Gembok
4. Detergent. Terkadang saya perlu mencuci secara manual juga.
5. Lunch Box. Nah, ini perlu untuk masukin kelebihan makanan, untuk bisa dimakan selanjutnya.
6. Laptop. Ini ga terlalu sering dipake sih, tapi saya orangnya belom bisa untuk mobile-only.
7. Kindle. Nah, tapi ini sayangnya hilang entah di mana. Dugaan saya di Qatar sih waktu perjalanan berangkat.


Persiapan Mental


Jadi, kalo cerita ke orang-orang kalo saya mau solo traveling ke Eropa, salah satu respons yang sering saya terima adalah "duh, hati-hati ya. di sana kurang aman.", "wah, di sana banyak copet, waspada ya", dan sebagainya.

I know maksud mereka baik, dan mereka sangat care terhadap saya. Namun, I cant lie kalau hal tersebut membuat saya sangat khawatir. Bahkan, sehari sebelum berangkat ke Milan, yang saya sibuk lakukan adalah

Tapi ada bagusnya sih, saya jadi revisit akomodasi yang akan saya tinggali. Saya baca secara mendetail review2nya, mulai dari lingkungan sekitar, keamanan, dan sebagainya. Bahkan saya juga liat di Google Street gimana penampakan sekitarnya, haha. Maklum, tadinya prioritas utama dalam memilih akomodasi adalah: harga dan rating. Kemudian, saya memasukkan lokasi sebagai kriteria utama juga dalam pemilihan akomodasi.

Nah, tadinya di Milan itu rencana awalnya menginap di daerah yang agak pinggiran. Lalu, saya coba deh liat di Google Maps, akses ke daerah situ dari airport atau pusat kota bagaimana. Bahkan saya juga lihat kondisi jalan dan bangunan di situ seperti apa, haha. Kalau agak-agak mencurigakan, saya langsung ganti yang lain. Duh, gimana ya, soalnya bukan nginep di hotel berbintang atau gimana, yang lokasinya hampir pasti oke. Haha.


 


About me

  • M.Rabindra Surya aka Arya aka Rabz
  • Male
  • CSUI
  • Twenty
  • Maaf kalo ada postingan dengan bahasa Inggris kacaubalau. Lagi belajar ^^"